Kita dan Kenangan: Apa Kabar Rindu | Opini

Foto: Darmawan Jufri
Foto: Darmawan Jufri

Oleh: Awan Malaka

 

Dar sejarah. Sejarah merupakan peristiwa faktual yang terjadi pada kehidupan manusia. Masa lampau, masa kini dan hari-hari esok adalah perjalanan sesaat di bumi Tuhan yang di dalamnya terdapat ruang, waktu dan aktor sebagai syarat formil untuk memvonis bahwa itu itulah sejarah.

Tidak hanya manusia, juga berbagai mahluk yang berada dalam semesta. Manusia, masing-masing memiliki sejarahnya tersendiri serta memiliki nilai sendiri pula, seperti baik dan buruk ataupun pahit dan manis.

Mempertahankan sejarah adalah satu hal yang tidak asing meskipun pahit, karena itu selain membaca buku, sejarah berlaku penting bagi perjalanan manusia untuk dijadikan referensi, evaluasi, dan bahkan introspeksi dalam menata masa mendatang.

Masa lalu (lampau). Istilah yang paling romantis untuk menyebut masa lalu ialah kenangan. Dalam persepektif milenial, masa lampau dalam dunia percintaan cenderung disebut kenangan, lantas apa saja jenis kenangan bagi mereka yang tidak alpa bercinta?.

Nah, dari sekian refleksi ini kita dapat memahami bahwa setiap individu manusia tidak selamanya menjadi orang jahat, sebutan lainnya seperti sukses di awal gagal di akhir, gagal di awal sukes di akhir, dan bahkan mirisnya gagal di awal juga gagal di akhir.

Begitu sebaliknya dalam dunia romantisme, semisal sepasang kasih yang saling mencintai namun gagal bertubi-bertubi. Peristiwa seperti ini seringkali kali ditemukan di lingkungan sekitar. Bagi mereka yang melaluinya, bahwa mereka gagal terlihat pada saat sibuk pada garis besar romantisme. Contoh konkret menanam sikap jentelmen di mata perempuan, ada juga yang sibuk dengan trauma, gelisah, dan atau kerinduan yang selalu saja datang silih berganti tanpa terkecuali.

Meski begitu, sejarah tetap saja menjadi referensi untuk membentuk arah yang tidak mungkin menjadi mungkin, atau dari kemungkinan-kemungkinan terjadi pada kalkulasi romantisme agar mencari jawaban yang tepat.

KENANGAN

Seperti yang telah disebutkan bahwa disetiap peristiwa faktual di hari-hari yang lalu merupakan kenangan yang tetap ada, dan muncul dalam ingatan pada ruang tertentu.

Yang paling rentan membunuh psikologi baik itu perempuan maupun laki-laki ialah kenangan romantis dalam percintaan.

Siapakah yang sudah bercinta atau akrab disebut “pacaran”?. Tentunya semua telah mengalami hal itu apabila ia sedang merasakan rasa, yaitu rasa ingin pacaran.

Orang berpacaran selain menganggap romantisme hanya sekedar momen untuk meramaikan hati, namun yang lainnya melaju dengan harapan untuk mencapai sebuah kesuksesan romantisme, yaitu pernikahan.

Setelah penulis mendengar, melihat, dan mengamati sebagian orang pata hati dalam bercinta, ternyata indikatornya adalah kenangan buruk bagi mereka yang menghantam jiwa dan raga.

Psikologi terganggu ketika kebahagiaan tidak kunjung digapai bersama. Ada studi kasus dari sebuah kalimat teman-teman yang sedang jatuh cinta lalu patah hati, bahwa “kebersamaan hingga mencapai pernikahan adalah kebahagiaan tertinggi yang harus dirasakan dalam kehidupan”.

Setelah semua tak kunjung dicapai maka akan berpotensi membentuk pikiran abnormal, semisal mengalami distorsi antara hati dan pikiran lantaran tidak mampu menampung dan mengingat kenangan terindah yang dirintis bersama.

KERINDUAN

Dari sekian tulisan ini yang mengarah pada dunia percintaan, satu hal yang tidak bisa diingkari adalah kerinduan. Memang rindu diharuskan bagi siapa saja karena kerinduan merupakan keinginan dan harapan yang nantinya akan bertemu.

Sama halnya seperti kegelisahan. Laki-laki akan menghawatirkan kekasihnya saat berjarak, sebaliknya perempuan. Dari kekhawatiran (cemas), maka rindu pun datang membawa segenap harapan bahwa kerinduan segera dituntaskan dengan pertemuan.

Hal seiring romantis seperti Adam dan Hawa setelah dihadirkan ke dunia dengan perbedaan benua dan samudra. Nabi Adam dibuang ke India, sedangkan Siti Hawa diturunkan di Irak.

Setelah mereka dihadirkan dan mengembara dari tempat yang berbeda selama 40 Tahun lamanya, kemudian doa-doa terus dilantunkan, kegelisahan dan kerinduan pun datang silih berganti, akhirnya mereka dipertemukan di Jabal Rahmah (Bukit Kasih sayang) yang bertempat di bagian timur dari padang Arafah.

Secuil rintisan ini menggambarkan bahwa kita dan kenangan akan bertemu kembali pada hari-hari esok, entah berapa lamanya. Dan sejauh mana kita mengembara menyusuri perjalanan panjang, baik yang pemula untuk mencari kekasih, yang sedang bercinta namun berbeda benua dan samudra, dan atau mereka yang bercinta lalu buntut ditengah jalan nirwana, dan atau juga hati tak sampai hingga pikiran mengalami benturan.

Apa kabar rindu. Kerinduan tak bisa dibayar dengan rupiah, karena rindu bukan komoditas yang diperjual belikan. Kerinduan juga tidak bisa dipenjarakan dengan egoisme, bahkan tidak bisa dieksploitasi dengan emosi, tidak bisa juga dikapitalisasi, karena kerinduan hadir tidak dengan buldozer melainkan perasaan halus yang meramaikan hati dan pikiran untuk terus berjuang. Apa Kabar Rindu!

Pos terkait

IMG-20230208-WA0017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *