Nelayan Desa Gorua dan Kehidupannya | Opini

Foto: Sufandy Seng
Foto: Sufandy Seng

Oleh: Sufandy Seng 

Mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Pasifik Pulau Morotai 

 

Gorua adalah salah satu Desa di Kecamatan Morotai Utara Kabupaten Pulau Morotai letaknya di Provinsi Maluku Utara. Desa Gorua mempunyai kode wilayah menurut Kemendagri 82.07.2006. Perairan laut gorua merupakan bagian dari wilayah yang berada di jalur perdagangan asia pasifik. Tata Letak Desa ini berkedudukan pada pesisir pantai dengan jarak pantai dan perumahan warga mencapai 50 meter dari bibir pantai pemekaran Desa tersebut di tahun 2013 dan jumlah penduduknya sekitar 818 jiwa.

Masyarakat setempat secara karakter memiliki hubungan gotong royong yang sangat tinggi, dan memiliki sumber daya alam dari sektor nelayan tangkap yang cukup melimpah. Desa inipun dari segi infrastruktur sangatlah teratur, baik kebersihanya dan juga lingkungan di dalm desanya.
Desa gorua Berasal dari warga suku tobelo galela, di bendung dengan tradisi adat tide², cakalele, denge2, lalayon dan juga masi banyak lagi tradisi yang berasal dari adat istiadat tobelo galela. Desa inipun telah di mekarkan menjadi dua desa gorua utara, dan gorua selatan.

Sumber daya laut yang di manfaatkan masyarakat setempat dari segi penangkapan hampir banyak di lakukan oleh seluruh rumah tangga dalam keluarga, yang masing-masing memiliki profesi menangkap ikan yang berbeda-beda baik pria ke tuna,cakalang, ikan terbang, ikan karang, dan juga wanita biyasanya pada biota laut.
Potensi penangkapan ikan cakalang, tuna dan ikan karang yang berada di dua desa gorua utara dan gorua selatan, tercatat mencapai 38 ekor tuna(pelagis besar), cakalang (pelagis kecil) 575, ikan terbang 700, ikan karang 60-70/ekor dengan waktu per trip dalam sekali melaut. Potensi perikanan tangkap di wilayah selain di manfaatkan oleh nelayan gorua utara dan gorua selatan juga di manfaatkan oleh nelayan dari kecamatan Bere-bere, Korago dan Losuo.

Armada Tangkap Ikan

Armada tangkap yang di gunakan nelayan sebagai sarana penangkapan ikan di desa gorua bervariasi, mulai perahu tanpa motor hingga kapal motor tempel, masing-masing memiliki ukuran perahu 5×6 kapasitas 6,0 PK dengan jenis perahu ketinting, perahu dayung 3×50, dan juga fiber memiliki tipe dan kapasitas yang bervariasi 7×1 cm-9×1 cm, memiliki kapasitas mesin 15 PK. Di lihat dari jumlah armada tangkap di desa gorua tercatat yang dimiliki sebagian besar oleh nelayan gorua adalah perahu dayung dan juga fiber yang terkecil jumlahnya dengan jumlah 6 armada tangkap bersumber dari bantuan pemerintah juga 4 armada tangkap jenis fiber bersumber dari pribadi masing² memiliki tipe dan kapasitas lebih besar di bandingkan dengan 6 armada tangkap dari yang di berikan pemerintah. Di samping itu juga terdapat jenis armada tangkap berupa ketinting dan perahu semang, masing2 meliki tipe dan kapasitas dan tercatat 1 jenis fiber dan juga 1 jenis perahu semang.

Di lihat dari jumlah tersebut dapat di tarik kesimpulanya bahwa sumber daya ikan yang banyak di manfaatkan oleh sebagian besar nelayan di desa gorua adalah sumber daya perikanan pantai sedangkan sumber daya laut dan zona ekslusif yang berdekatan laut filipina belum banyak di manfaatkan oleh nelayan desa gorua Dengan demikianlah masih terbuka peluang bagi nelayan untuk menambah jumlah maupun alat tangkap untuk melakukan penangkapan di daerah lepas pantai sangatlah besar. Pada dasarnya daya mesin kapal yang di gunakan bagi sebuah kapal di sesuaikan dengan ukuran kapal dan juga kecepatan kapal yang di kehendaki Demikian juga halnya mesin-mesin kapal oleh nelayan gorua berupa giob yang memiliki kapasitas 60 TS, jarang sekali nelayan mengunakan mesin yang kusus laut karena mesin ini relatif lebih mahal di bandingkan dengan mesin lain.

Alat Tangkap Ikan

Jika di lihat dari alat penangkapan ikan yang di gunakan oleh nelayan gorua aktif maupun sambilan, sebagian besar nelayan di gorua mengunakan alat tangkap dengan tujuan menangkap ikan pelagis besar, pelagis kecil, ikan terbang, ikan karang, dan juga jenis ikan demersal(biota laut). Sasaran menangkap ikan nelayan gorua lebih ke tuna( pelagis besar ) cakalang (pelagis kecil) ikan terbang, karena empat jenis ikan ini memiliki nilai ekonomi yang relatif lebih tinggi di bandingkan jenis ikan demersial( biota laut) dan juga ikan karang (ikan dasar).

Selain itu juga cakalang dan tuna di desa gorua memiliki durasi trip dalam setiap melaut mencapai 3-6 minggu permusim tangkapan. Jenis alat tangkap yang di peroleh oleh nelayan di desa gorua adalah pancing ulur, jaring, mata kail, dan jenis alat tangkap lainya. Ada pun jenis alat tangkap yang di gunakan berdasarkan daerah penangkapanya, depan gorua, hapo, laut loloda, tanjung sopi, tanjung gorango, dengan jumlah alat tangkap yang di bawa 4-6-8 buah dengan ukuran alat tangkap masing2 bervariasi 40-30-100 sasaran ikan yang di tangkap tuna dan cakalang. Nelayan yang menangkap ikan terbang biyasanya memiliki alat tangkap dengan ukuran dan jumlah alat tangkap yang di peroleh 1 ins-1,2 ins masing-masing 2-3 alat tangkap di bawa, ada pun daerah penangkapan ikan terbang memiliki durasi trip 3-5 minggu dalm sekali melaut, dan juga daerah penangkapan ikan terbang tanjung Gorango.

Peraturan Desa

Dari segi pengelolaan perikanan maupun peraturan desa di desa gorua telah di buat dari sektor pembudidayaan rumput laut dan juga budidaya teripang namun hal yang sama sekali di terapkan ketika seiring berjalanya waktu program yang di canangkan mengalami kemandetan. Begitupun dengan proses peraturan desa yang telah di canangkan di desa gorua berupa pembuangan sampah di laut, batas wilayah laut untuk daerah penangkapan telah di buat namun hal ini tidak di sosialisasi maupun di seriusi oleh pemerintah untuk lebih jelih dan lebih di kampanyekan secara totalitas oleh masyarakat setempat sehingga pada ahirnya peraturan hanya sebuah gambaran formalitas yang tidak di cerna oleh masyarakat kususnya desa gorua.
Hampir semua nelayan yang berada di pesisir pantai itu mengalami kemunduran yang secara bertahap membunuh ruang hidupnya

Alur Pasar

Alur pasar yang di alami desa gorua hampir juga terjadi di beberapa daerah yang memiliki potensi perikanan yang cukup melimpah. Sumber ikan desa gorua berfluktuatif dari tahun menurun dan cenderung meningkat di akibatkan alur musim yang terus berubah. Peningkatan ikan yang di peroleh nelayan tersebut justru harus searah dengan ketersediaanya pasar ( pembeli) yang membuat hasil tangkapan nelayan tidak terbengkalai. Hasil tangkapan nelayan desa gorua rata-rata untuk menangkap ikan dengan jenis ikan tuna mencapai Rp 45.000/1 kg, cakalang 3 ekor Rp 10.000/1 kg, memiliki biyasa operasioanl mencapai Rp 400.000-500.000 per trip. Ketersedian pasar oleh nelayan yang berada di desa gorua lebih banyak di jual ke masyarakat dan pengumpul yang berada di desa gorua dan juga di desa2 tetanga lainya lainya. dengan tujuan pemasaran ternate morotai dengan jenis ikan karang, dan ikan cakalang, ikan terbang. Selain dari itu jenis ikan pelagis besar (tuna) di tangkap nelayan. biyasanya di jual ke pengumpul dan juga coolstor yang berada di kecamatan morotai utara selatan tiley daeo, dan juga morotai timur sangowo.
Adapun juga sumber rantai dingin yang di peroleh masyarakat nelayan gorua lebih banyak dari kios, kios dan rumh warga, maupun pribadi dengan kapasitas ketahanan es hanya sehari dengan ukuran es 40×10 cm kusus untuk nelayan yang menangkap ikan terbang, ikan karang, cakalang dan tuna.

Kelompok Organisasi Nelayan

Kelompok organisasi nelayan yang berada di desa gorua pun telah mengalami staknasi yang begitu lama sekitar 4 tahun lebih tidak berjalan di akibatkan prosesnya tidak ada pengontrolan, padahal dari segi fasilitas telah di sediakan berupa frizeer dari kelompok koperasi nelayan yang sementara di jadikan sebagai aset pribadi. kelompok organisasi nelayan di berinama porimoi jaya berangotan 10 orang, dan juga mario jaya berangotakan 13 orang program yang di canangkan adalah melaut. Hal ini sepadan dengan kelompok koperasi nelayan yang ada di 88 desa mengalami kemunduran yang sama.

Bantuan Pemerintah

Desa gorua kecamatan morotai utara di tahun 2018 pernah ada program perikanan yang telah di berikan pemerintah daerah berupa frizeer tahun pengadaan 2018 maupun dari SKPT berupa alat tangkap, dan juga armada laut. Tandasnya progam yang di berikan oleh nelayan gorua tidak tepat sasaran di akibatkan lain dari itu berprofesi tanipun di berikan. Selain dari program bantuan yang telah di salurkan nelayan seluruh nelayan yang berada di desa gorua juga memiliki kartu nelayan berupa Kartu KUSUKA dan juga BPS yang bersumber dari pemerintah daerah maupun kementrian perikanan, yang memiliki masa berlaku masing-masing 1 tahun untuk asuransi dan kusuka 5 tahun.

Harapan Nelayan

Hasil ikan tangkapan dilaut oleh nelayan gorua dari tahun ke tahun seharusnya tetap untuk di seriusi begitupun desa2 lainya yang sementara di berikan armada tangkap maupun alat tangkap terhadap perbaikan fasilitas penangkapan misalnya penambahan armada, perubahan alat tangkap dan motorisasi nelayan serta peningkatan mutu sumberdaya dan keahlian nelayan dalam segi menjaga kesehatan di saat melaut, bagi nelayan kecamatan morotai utara dan nelayan lainya harus di perhatikan. (*).

Pos terkait

IMG-20230208-WA0017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *