Beritadetik.id – Pihak Kontraktor CV Toara Putra Mandiri, Gio, akhirnya angkat bicara mengenai dugaan belum terbayarnya upah pekerja pada proyek pembangunan PAUD Negeri 22 di Desa Loleo, Kecamatan Morotai Utara, sebesar Rp10 juta.
Gio menjelaskan bahwa sisa pembayaran sebesar Rp10 juta tersebut memang benar adanya, namun ada alasan teknis di balik penundaan dan pemotongan sisa anggaran tersebut. Menurutnya, langkah ini diambil karena para tukang sebelumnya dinilai lambat dalam bekerja, sementara proyek harus segera diselesaikan sesuai kontrak.
Gio mengungkapkan bahwa demi mengejar target waktu yang diberikan oleh Dinas Pendidikan, pihaknya terpaksa mendatangkan tukang tambahan dari Daruba, Kecamatan Morotai Selatan, khusus untuk mengerjakan pemasangan keramik (tehel).
“Jadi begini, itu sisa ongkosnya Rp10 juta. Cuma karena kita mau kerja cepat, kita ambil tukang dari Daruba khusus pasang tehel. Kerja hanya dua hari karena kita kejar target,” ungkap Gio saat dikonfirmasi, Kamis (30/4/2026).
Ia menambahkan, keputusan mengambil tenaga kerja dari luar dilakukan karena progres di lapangan saat itu melambat. Pihak Dinas Pendidikan pun telah memberikan peringatan agar pekerjaan dipercepat agar tidak melewati batas kontrak yang berujung pada denda.
Terkait selisih angka yang diperdebatkan, Gio meluruskan bahwa pemotongan upah tukang asal Morotai Utara sebenarnya hanya sebesar Rp2 juta, bukan Rp3 juta seperti yang diisukan. Pemotongan ini dialokasikan untuk membayar tukang dari Daruba yang menyelesaikan sisa pekerjaan tersebut.
“Kita potong tidak sampai Rp3 juta, hanya Rp2 juta. Harusnya mereka kerjakan sampai selesai, tapi karena mereka lambat dan tidak menyelesaikan bagian itu, maka dialihkan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Gio menegaskan bahwa sisa upah sebesar Rp8 juta sebenarnya sudah dikirimkan melalui rekening pengawas lapangan untuk diteruskan kepada kepala tukang (bas). Namun, pihak tukang dilaporkan enggan menerima uang tersebut karena nominalnya dianggap tidak utuh.
“Uang Rp8 juta itu sudah ditransfer ke rekening pengawas dan sudah diserahkan ke bas tukang. Tapi bas tidak mau ambil, katanya mau lengkap. Padahal mereka tidak menyelesaikan pemasangan keramik, tapi minta bayar penuh, bagaimana?” pungkas Gio.
Pihak kontraktor berharap permasalahan ini dapat dipahami sebagai konsekuensi dari ketidaksanggupan memenuhi target waktu kerja yang telah disepakati sejak awal. (*)











