Menyelami Emosi Untuk Kesembuhan Diri

  • Whatsapp

Oleh: Rama Lajahi
(Pegiat Literasi Um Fapolo, Desa Masure)

Kehidupan manusia memang amat dinamis dan penuh ambisi, namun penyesuaian dalam menyelami jiwa dan akal akan terus bertentangan seiring berjalannya waktu dan banyaknya pengalaman. Refleksi ini dengan sengaja saya tuliskan, bukan karena tanpa dasar, melainkan ini adalah sebuah pengalaman yang sejak beberapa tahun terakhir telah menjadi momok ketakutan yang menghantui.

Dipikiran saya; semakin banyak ilmu yang menggenang dalam isi otak, maka semakin banyak pula potensi, segala peluang yang datang memenuhi kebutuhan hidup. Seperti pekerjaan, banyaknya pergaulan. Dan paling penting adalah ketajaman intelektual dalam mengatasi segala masalah.
Tapi bila semakin dalam barometer (Alat ukur) ilmu yang kita masuki, yang ada semakin besar pula bahaya akan datang mengahantui keseimbangan emosional.

Kecerdasan memang menjadi ajang prestasi bagi semua orang. Ia juga piala mutiara dari lomba kehidupan yang terus dikejar. Disisi lain, adalah mengapung bak mutiara yang sewaktu-waktu bisa merubah tampilan individu naik kesebuah puncak yang diberi nama pemimpin (leader) bagi sebuah kelompok, karena dianggap mampu memberikan pemahaman kompleks

Namun banyaknya ambisi ini akan membuat manusia lupa, dirinya akan terus meronta, meminta sebuah pernyataan, sikap. “Semisal perhelatan”. Dan Atau cukup sudah jangan terlalu monoton, cintailah dirimu dan nikmatilah jeda. Sebab peristirahatan akan dapat memperbaiki tubuh, “Nikmatilah jeda”. karena terlalu banyak keindahan yang terlewati dibalik ketergesa-gesaan, ” (Jazuli Imam).

Jeanne segal Ph.D, yang mempunyai pengalaman lebih dari tiga puluh tahun sebagai psikologi klinis. Dia belajar dan bekerja dengan tokoh-tokoh penting humanistik, seperti Abraham maslow dan rollo May. Mengungkapkan, “emosi berperan penting dalam kehidupan, ia dapat menyambung hidup bagi kesadaran diri dan kelangsungan hidup. Secara harfiah, emosi memberi tahu tentang hal-hal yang paling utama yang dapat kita rasakan dengan sungguh-sungguh secara fisik. Yang apabila kita lakukan, maka kita akan mengembalikan bagian-bagian otak yang selama ini tertidur.

Antara Pemuasan Diri Dan Pemuasan Kelompok

Kebanyakan dari kita (Manusia) mungkin pernah merasakan ini, satu rintihan batin yang menggema di pelupuk hati menyerukan agar terus menerus menyenangkan semua orang, namun sebenarnya dalam aspek psikologi manusia itu cenderung berbeda-beda. “Anda tidak akan bisa menyenangi semua orang, dalam setiap tindakan dan perilaku. jangan mengejar itu, karena manusia tidak akan pernah selamat dari lidah setiap manusia, “
Ali bin Abi Thalib.

Fonis Dokter Tentang Penyakit Skizofrenia

Sebuah penyakit yang sewaktu-waktu dapat membuat diri hilang kendali.
Butuh waktu yang lama saat bulan Ramadhan 2018 lalu saya jatuh sakit. Bertualang kebeberapa tempat pengobatan disetiap daerah, namun tidak menemukan hasil sembuh seperti yang saya inginkan.
Satu bulan dipembaringan yang diling dengan hasrat; Anatara hidup dan mati telah membuat diri ini putus asa, hidup seakan tidak bergairah, padam segala keinginan untuk menjalani setiap peristiwa indah.

Beberapa tabib mengungkapkan pendapat bahwa penyakit ini ada kaitannya dengan mistisisme, seperti sihir, santet, guna-guna dan pemikat lawan jenis, merupakan rangkaian peristiwa yang tidak bisa saya jabarkan semuanya disini. Karena pada akhirnya melalui tenaga medis di puskesmas Damuli, mengeluarkan surat rujukan menuju RS UMUM DAERAH WEDA dalam tempo yang singkat (Hanya diobservasi) karena penyakit itu semakin menjangkit. sehingga membuat semua tenaga medis disana tidak bisa mengatasi bahkan ada yang sampai lari ketakutan.

Membuat tenaga medis itu harus dan perluh membuat surat rujukan lanjutan ke RS UMUM CHASAN BOESORI Ternate. Yang akhirnya memberikan obat penenang tidur untuk menepis liarnya penyakit tersebut.

Saya tidak menjudge kalau semua pejalan intelektual akan merasakan hal yang sama seperti yang saya alamih.
Namun, dalam banyak peristiwa “Menyelami emosi itu adalah penyembuhan atas diri” dengan metode hidup. Semisal malas tahu, ikuti semua perintah batin yang menyerukan pada kesenangan diri dan pemuasan batin. “Apabila sesuatu yang kau senangi tidak terjadi, maka senangilah apa yang telah terjadi. Kata Ali bin Abi Thalib, “Tertawalah bila itu perluh dan menangislah jika itu ber’alasan”.

Jeanne segal dalam sebuah kutipan
Apa yang baik untuk saya memeriksa kesehatan jangka panjang saya, Adalah dengan menggunakan metode sekolah dasar, yaitu, merasakan perasaan tubuh kita, menyeimbangkannya dalam bentuk kesenangan perasaan, bahwa ini baik-baik saja. Jangan menciptakan animo yang membuat perasaan tubuh kita merasakan ketakutan dan cenderung tertekan. Sebab itu bisa berakibat fatal terhadap kesehatan SIKOLOGI. Karena itu lagi-lagi Jeanne segal membuat pernyataan bahwa “Terlalu mahal harganya bagi manusia untuk mengabaikan emosi dalam dirinya”.

Hemat saya; apapun masalah yang dihadapi bagaimana pun prosesnya, jangan tergesa-gesa. Ingatlah sebuah Firman yang berbunyi; “Laa yukallifullah Hunafsan’ illah wus’aha” yang artinya Allah tidak akan membebani suatu kaum melainkan dengan kesanggupannya. Maka cintailah masalah itu dengan kendali emosional yang santai. Karena hati, perasaan dan otak itu sebenarnya tidak terpisah,
Ia akan senantiasa berbisik tentang sebuah ambisi dan jeda.

Apabila kau merasakan tekanan, “Cobalah meditasi”. merasakan emosi yang ada dalam diri, sebagai perwujudan, “Menemukan yang kosong, Mengosongkan yang penuh”. Hidup dalam tekanan dan ambisisme akan terus membuat manusia lebih serakah, berujung pada pengabaian setiap kondisi hidup yang harusnya dinikmati dari setapak demi setapak.

“Surah Arrahman ayat 34; yang berbunyi “Fabiayyiala Irobbikuma tukazziban” berpesan, “hei manusia, maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan”. (**)

Pos terkait

Screenshot_2021-08-16-16-18-33-23

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *