Beritadetik.id – Koordinator Wilayah Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Maluku Utara, Jufri Bayar, S.H, secara tegas menyatakan bahwa kondisi bangkit atau terpuruknya GMKI Cabang Sofifi merupakan tanggung jawab kolektif yang melibatkan seluruh stakeholder organisasi. Penegasan ini ditujukan kepada Pengurus Pusat, Cabang terdekat, hingga peran vital para senior dan kader GMKI sendiri.
Pernyataan tersebut disampaikan Jufri saat membuka Masa Perkenalan (Maper) dan Konferensi Cabang (Konfercab) II GMKI di Gereja El-Shadai Galala Sofifi, Rabu (22/10/2025).
Dalam sambutannya yang berapi-api, Jufri menekankan bahwa kepedulian dan panggilan pelayanan harus menjadi roh utama yang menghidupi gerakan GMKI.
“Kepedulian bukan sekadar kata, tetapi tindakan nyata yang harus hidup dalam diri setiap kader. Karena kepedulian berkaitan erat dengan panggilan pelayanan,” ujar Jufri di hadapan peserta Maper dan Konfercab II. Ia meyakini, dengan semangat pelayanan yang terus dihidupkan, GMKI Sofifi akan mampu berdiri kuat menghadapi tantangan seberat apa pun.
Lebih lanjut, Jufri berpesan kepada Badan Pengurus Cabang (BPC) terpilih agar memprioritaskan dua fondasi mendasar, yakni konsolidasi organisasi dan pendidikan kader. Dua aspek ini dianggap krusial untuk menata kembali arah gerakan dan menjaga keberlanjutan organisasi.
Ia juga berharap GMKI harus mampu menjadi pelopor transformasi gerakan mahasiswa yang inklusif, progresif, dan terbuka terhadap kolaborasi lintas organisasi.
Di sisi lain, Ketua Terpilih GMKI Sofifi, Neistorius Labada, mengakui bahwa perjalanan cabang yang berdiri di jantung pemerintahan Provinsi Maluku Utara itu tidaklah mulus. GMKI Sofifi sempat mengalami kevakuman organisasi yang cukup lama, terputusnya komunikasi antar kader dan senior, serta lemahnya konsolidasi.
“Dua kali Pengurus Pusat harus menurunkan caretaker karena kevakuman yang cukup lama. Tapi hari ini, semangat itu mulai pulih kembali,” ungkap Neistorius.
Ia menegaskan, perjalanan GMKI Sofifi merupakan hasil dari proses panjang sejak pembentukan komisariat di bawah GMKI Cabang Ternate hingga menjadi cabang definitif.
Neistorius sangat menyoroti pentingnya peran senior sebagai “orang tua, pelopor, dan teladan” dalam mendampingi kader muda. Ia juga mengingatkan para kader untuk terus berproses secara intelektual dan setia pada panggilan pelayanan.
“Kita lah penerus gagasan Johanes Leimena. Sudah saatnya GMKI Sofifi bergerak bersama dalam satu semangat dan arah gerakan,” tegasnya.
Maper dan Konfercab II ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan bagi GMKI Sofifi. Sebagai cabang yang berada di ibu kota provinsi, GMKI Sofifi dituntut hadir dengan karakter inklusif, transformatif, kritis, dan solutif, serta mampu memberi dampak nyata bagi Gereja, Perguruan Tinggi, dan Masyarakat di tengah dinamika Kota Sofifi dan Maluku Utara secara keseluruhan.(*)











