Kawal Program MBG, Polres Morotai dan Dinkes Bersinergi Jamin Higienitas Pangan Lewat Kursus Relawan

Beritadetik.id – Sebagai langkah nyata mendukung program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Kepolisian Resor (Polres) Pulau Morotai menginisiasi pelaksanaan kursus keamanan pangan siap saji bagi para penjamah pangan di Satuan Pelayanan Gizi (SPPG). Kegiatan krusial ini digelar berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Pulau Morotai serta Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara.

Langkah preventif ini diambil sebelum SPPG Polres Pulau Morotai resmi beroperasi secara penuh. Fokus utama dari pelatihan ini adalah memastikan seluruh proses pengolahan makanan, mulai dari hulu hingga hilir, memenuhi standar kesehatan yang ketat.

​Perwakilan dari Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara, Haris, menjelaskan bahwa kegiatan pengamanan pangan di SPPG ini merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap tempat pengolahan pangan.

Bacaan Lainnya

“Kegiatannya itu adalah salah satu syarat untuk penerbitan SLHS atau standar keizinan sanitasi di tempat pengolahan pangan. Karena SPPG juga memproduksi pangan, makanya ini juga kategorinya adalah tempat pengolahan pangan,” ungkap Haris didampingi rekannya, Sari, saat diwawancarai awak media pada Kamis (11/6/2026).

Haris menambahkan, sertifikasi bagi seluruh penjamah pangan adalah hal yang tidak bisa ditawar. Oleh karena itu, pelatihan ini menjadi jembatan legalitas sekaligus standarisasi mutu bagi para petugas di lapangan.

“Salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah dilatih karena memang semua pengamanan pangan itu harus bersertifikat, sebagai salah satu syarat untuk SPPG itu diterbitkan sertifikat layak higienis itu sendiri,” tuturnya.

​Kursus intensif ini diikuti oleh puluhan peserta yang nantinya akan memegang peranan penting dalam dapur produksi SPPG Polres Pulau Morotai.

“Mereka relawan peserta kursus SPPG Polri Polres Pulau Morotai ini 34 orang sudah direkrut. Karena yang direkrut ini belum memiliki sertifikat, makanya harus dilatih,” tegas Haris.

Menurutnya, momentum pelatihan ini sangat tepat karena dilakukan sebelum aktivitas memasak dan distribusi massal dimulai. Hal ini memastikan tidak ada celah kesalahan dalam penanganan pangan nantinya.

​Lebih lanjut, Haris menekankan bahwa materi kursus ini tidak menitikberatkan pada kandungan gizi atau seni kuliner, melainkan pada aspek higienitas dan keselamatan konsumsi.

“Kita bekali mereka terkait dengan keamanan pangannya itu seperti apa. Ini bukan cerita terkait dengan kandungan gizi, bukan cerita terkait dengan cara memasak ini ayam misalkan atau ikan ini, ndak. Tapi terkait dengan keamanan pangannya, bagaimana supaya pangan yang baik itu dari bahan sampai jadi masak itu tetap aman,” jelasnya secara detail.

Guna mencapai target tersebut, para peserta diberikan pembekalan komprehensif. Materi yang disajikan mencakup regulasi kebijakan pemerintah hingga seluruh tahapan rantai produksi pangan.

“Dari materi kan mulai dari kebijakan sampai dengan tahapan produksi. Itu dimulai dari pemilihan bahan baku sampai dengan proses penyalurannya ke masyarakat,” pungkas Haris. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *