Wakil Ketua II DPRD Morotai Bungkam Soal Insiden Tiang Proyek WFC Timpa Anak

Beritadetik.id – Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Pulau Morotai, Erwin Sutanto, memilih bungkam saat dimintai keterangan mengenai insiden tiang pancang beton proyek pembangunan Water Front City (WFC) Pariwisata Zona II di Desa Daruba, Morotai Selatan, yang menimpa seorang anak.

Sikap ini menuai sorotan, mengingat Erwin Sutanto dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) adalah koordinator Komisi II, yang semestinya bertanggung jawab mengawasi proyek di atas bangunan pariwisata tersebut.

Saat dikonfirmasi awak media usai paripurna di gedung DPRD Morotai pada Rabu (11/6/2025), Erwin Sutanto enggan memberikan komentar terkait material proyek yang berkaitan dengan kejadian nahas itu.

Bacaan Lainnya

“Saya tra mau mohon maaf, saya punya hak. Nanti ke pak Suhari Ketua saja,” ujarnya singkat.

Para wartawan terus mengejar Erwin untuk mendapatkan alasannya tak mau menanggapi, namun ia tetap bersikukuh pada haknya untuk tidak berkomentar.

Ironisnya, ia sempat melontarkan pernyataan mengejutkan: “Kalau media yang lain saya mau.”

Di sela-sela pertanyaan wartawan, Erwin bahkan menegaskan bahwa ia tidak pernah memberikan berita yang sebenarnya.

“Saya no komen, kalau publik silakan datang saya layani,” tegasnya, meninggalkan tanda tanya besar terkait transparansi dan akuntabilitas wakil rakyat dalam mengawal proyek vital di daerahnya.

Sebelumnya, insiden mengerikan ini terjadi sekitar pukul 09.00 WIT, saat sejumlah anak sedang bermandian di pantai. Tiang pancang beton berukuran 6 meter dengan berat sekitar 4 ton, yang sudah dua tahun dibiarkan terbengkalai di atas swerving tepi pantai di lokasi WFC Zona II, tiba-tiba terguling ke laut dan menimpa korban bernama Afit (boca berusia 10 tahun).

Material proyek yang seharusnya diamankan dengan baik ini dibiarkan begitu saja di area yang sering digunakan anak-anak untuk mandi.

Warga Desa Daruba, Darwin, yang tidak menyaksikan langsung kejadian tersebut, membenarkan bahwa tiang beton itu sudah dua tahun diletakkan di lokasi WFC.

“Sudah dua tahun material itu mereka biarkan di situ, tiba-tiba tiang dia terguling tindis anak itu baru darah semua,” ungkapnya miris.

Saksi mata lainnya, Ronal (36), menjelaskan detik-detik kejadian. “Dia punya tiang talucur karena tiang pancang posisi ada di atas, dia punya tiang yang tajam tindis di belakang posisi tapalaka (tengkurap),” katanya.

Ia menambahkan bahwa perut korban bocor, dan butuh 12 orang untuk mengangkat tiang pancang yang menimpa Afit. Senada, Aco (35) yang saat kejadian berada di atas perahu, terkejut melihat tiang pancang menimpa anak tersebut dan langsung berteriak meminta pertolongan.

“Anak-anak ini mandi pantai karena habis sunat jadi mandi pantai,” tuturnya, seraya menambahkan bahwa posisi tiang pancang memang berada di atas kemiringan swerving.(red)

 

Editor  : M. Bahru Kurung

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *