Beritadetik.id – Konferensi Cabang (Konfercab) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Halmahera Utara (Halut) di Greenland Tobelo pada Rabu (21/5) diwarnai insiden walk out massal.
Ratusan pendukung Williams Jesajas memilih meninggalkan ruang konferensi sebagai bentuk protes keras terhadap dugaan pelanggaran prosedur dalam penyelenggaraan Konfercab, yang mereka nilai tidak sesuai dengan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.
Aksi keluar ruangan ini dipicu oleh ketidakpuasan mendalam terhadap model pengangkatan pengurus anak cabang (PAC) yang dianggap cacat konstitusi.
Teiser Tebi, seorang mantan anggota DPD GAMKI Maluku Utara, mengungkapkan bahwa pembentukan PAC dilakukan tanpa melalui mekanisme formal yang diatur dalam peraturan organisasi.
“Proses pengenalan anggota dan musyawarah yang seharusnya menjadi syarat pengangkatan, diabaikan,” jelas Tebi, menyoroti tidak adanya proses demokrasi yang semestinya.
Para pendukung Williams Jesajas juga menyoroti keputusan DPD Maluku Utara yang melantik PAC sehari sebelum pelaksanaan Konfercab.
Mereka menilai tindakan ini sebagai pelanggaran serius, mengingat pengurus yang dilantik tidak terpilih melalui proses demokrasi yang sah. Banyak di antara mereka menyebut bahwa pengurus PAC tersebut tidak pernah menghadiri musyawarah dan hanya diangkat melalui penunjukan sepihak, bukan melalui kesepakatan anggota.
Sebagai bentuk protes terhadap proses yang mereka anggap cacat hukum ini, massa pendukung Williams Jesajas tidak hanya melakukan walk out tetapi juga menyatakan akan mengajukan pengaduan resmi kepada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GAMKI.
Pengaduan ini diharapkan dapat menindaklanjuti dugaan pelanggaran serius yang terjadi dalam pelaksanaan Konfercab di Halmahera Utara, serta menuntut adanya keadilan dan penegakan aturan organisasi.(mik/red)











