BEM Unipas Morotai Gelar Nobar Film Pesta Babi, Soroti Perampasan Tanah Adat

Beritadetik.id – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Pasifik (Unipas) Pulau Morotai, Maluku Utara, menggelar acara nonton bareng (Nobar) dan diskusi film dokumenter berjudul Pesta Babi. Kegiatan yang bekerja sama dengan Grup Aksi Human Rights Ternate ini berlangsung di Gedung Oikumene, kawasan Pasar Rakyat CBD, Kecamatan Morotai Selatan, Senin (18/5/2026) malam.

Acara yang dimulai pukul 21.50 WIT ini dipimpin langsung oleh Presiden BEM Unipas Morotai, Rifaldi Madjid. Agenda ini mengusung tema yang cukup lugas, yakni “Menyikap Tabir Keserakahan di Meja Makan: Pesta Babi Nonton Bareng Kolonialisme di Zaman Kita“.

Berdasarkan pantauan di lokasi, agenda nobar ini tidak hanya memikat perhatian kaum akademisi. Sedikitnya 150 mahasiswa hadir memenuhi ruangan bersama sejumlah warga dari kalangan masyarakat umum yang ikut antusias menyaksikan pemutaran film dokumenter tersebut.

Bacaan Lainnya

Presiden BEM Unipas Morotai, Rifaldi Madjid, menegaskan bahwa pemutaran film dokumenter ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, khususnya di Pulau Morotai, agar memahami substansi di balik konflik agraria yang kerap terjadi.

“Film dokumenter ini memuat bukti nyata kejahatan (ekologis) di Papua, di mana hutan dan kekayaan alam adat di sana terus diincar dan dikuasai oleh korporasi besar,” ujar Rifaldi di sela-sela kegiatan.

Rifaldi juga mengajak para mahasiswa dan masyarakat Morotai untuk membangun solidaritas terhadap apa yang menimpa masyarakat adat di Papua. Menurutnya, kesadaran kolektif sangat penting agar masyarakat lokal tetap bersatu menjaga tanah adat mereka dari ancaman serupa. Melalui dokumenter ini, penonton diajak mengidentifikasi pola perampasan tanah yang terstruktur.

Lebih lanjut, Rifaldi menyoroti adanya kemiripan pola represif dan penguasaan lahan antara wilayah Papua dan Morotai. Ia menilai isu militerisme dan perampasan tanah adat juga membayangi wilayah Morotai, sehingga film ini relevan menjadi media refleksi.

“Ada sinkronisasi masalah yang bisa kita petik. Di Morotai juga ada riwayat perampasan tanah adat. Oleh karena itu, film dokumenter ini harus menjadi pembelajaran berharga bagi seluruh masyarakat Morotai untuk tetap waspada dan menjaga ruang hidup kita,” pungkasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *