Hemat Anggaran Hingga Miliaran, PUPR Morotai Sukses Terapkan Metode Swakelola di 2025

Beritadetik.id – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pulau Morotai membuktikan bahwa efisiensi anggaran dapat berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan infrastruktur publik.

Melalui penerapan metode swakelola pada Tahun Anggaran 2025, Dinas PUPR berhasil membangun jalan tani dan talud dengan biaya yang jauh lebih hemat dibandingkan sistem tender konvensional.

Kepala Dinas PUPR Pulau Morotai, Fahmi Usman, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, pihaknya telah menuntaskan pembangunan jalan tani sepanjang 15 kilometer dengan total anggaran hanya Rp1,5 miliar.

Bacaan Lainnya

“Capaian ini sulit terwujud jika menggunakan sistem tender, yang biasanya memerlukan biaya pembangunan per kilometer jauh lebih besar,” ujar Fahmi pada Senin (2/2/2026).

​Efisiensi serupa juga terlihat pada pembangunan talud batu bolder di Desa Rahmat. Dengan metode swakelola, talud sepanjang 230 meter tersebut hanya menghabiskan anggaran sekitar Rp1 miliar. Sebagai perbandingan, proyek talud dengan spesifikasi panjang yang hampir sama di desa lain melalui sistem tender menelan biaya hingga Rp4,1 miliar.

Meski terdapat penghematan besar, Fahmi menjamin bahwa fungsi dan ketahanan infrastruktur tetap terjaga.

​”Penghematan ini sama sekali tidak menurunkan kualitas. Infrastruktur tetap menunjang mobilitas warga dan aktivitas pertanian, serta berfungsi melindungi badan jalan dari risiko longsor dan abrasi,” tambahnya.

​Dalam kesempatan tersebut, Dinas PUPR juga memberikan klarifikasi tegas terkait beredarnya video di salah satu media online yang memperlihatkan kondisi jalan rusak dan mengaitkannya dengan hasil kerja swakelola. Fahmi menyatakan dengan lugas bahwa informasi tersebut adalah hoaks.

Berdasarkan pengecekan lapangan, jalan yang tampak dalam video tersebut merupakan jalan tani lama yang dibangun pada tahun-tahun sebelumnya, bukan hasil pekerjaan swakelola Tahun Anggaran 2025.

“Video tersebut bukan hasil pembangunan saat ini. Mengaitkan kondisi jalan lama dengan pekerjaan tahun 2025 adalah tindakan yang menyesatkan. Itu hoaks,” tegas Fahmi.

​Fahmi menjelaskan bahwa jalan tani yang dibangun menggunakan material sirtu (pasir batu) memang dirancang khusus untuk mendukung distribusi hasil pertanian. Ia mengingatkan bahwa jalan tersebut tidak diperuntukkan bagi kendaraan bermuatan berat secara terus-menerus karena akan mempercepat kerusakan.

Sebagai penutup, ia mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menyaring informasi.

“Jangan mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak disertai data, waktu, dan lokasi yang jelas. Kami berkomitmen untuk selalu menyampaikan informasi pembangunan secara terbuka dan akurat kepada publik,” pungkasnya.(red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *