PT Geo Dipa dan PT Rante Mainta Servis Dinilai Abaikan 5 Desa di Jailolo

Ketua Himpunan Mahasiswa Pabos, Isman Rustam. (Beritadetik.id)

Beritadetik.id – Pertemuan yang digelar oleh PT. Geo Dipa Energi dan PT. Rante Mainta Servis bersama sejumlah pejabat Kecamatan dan Desa tetangga di Indamdehe, Kecamatan Jailolo, Halmahera Barat (Halbar), Maluku Utara (Malut) menimbulkan tanda tanya besar.

Pasalnya, lima desa yang akan terdampak langsung oleh rencana eksplorasi panas bumi, yakni Desa Payo, Bobo, Bobo Jiko, Pateng, dan Saria (Pabos), justru tidak diundang dalam forum tersebut.

Ketua Himpunan Mahasiswa Pabos, Isman Rustam menilai pertemuan tersebut merupakan langkah tidak transparan dan mencederai prinsip partisipasi masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Bagaimana mungkin perusahaan datang ke wilayah kami, merancang pembukaan lahan, bahkan membicarakan syukuran adat dan kebutuhan tenaga kerja, tetapi kepala desa maupun perwakilan dari desa terdampak sama sekali tidak dilibatkan? Ini penghinaan terhadap masyarakat Pabos,” tegas Isman. Jum’at (29/8/2025).

Dalam pertemuan pada Kamis (28/8/2025) kemarin itu hadir 4 orang dari PT. Geo Dipa Energi, 2 orang dari PT. Rante Mainta Servis, Camat Jailolo, Camat Sahu, perwakilan Pemda Halmahera Barat dari Kesra dan Nakertrans, serta beberapa Kepala Desa tetangga seperti Kades Gamtala, Indamdehe Gamsungi, dan Marimabati. Jumlah undangan masyarakat mencapai lebih dari 30 orang di Gedung Serba Guna Desa Indamdehe. Namun ironisnya, 5 desa yakni Pabos yang akan menjadi lokasi utama pengeboran sama sekali di “singkirkan” dari forum itu.

Isman menyebut, praktik seperti ini adalah bentuk manipulasi sosial yang berbahaya. “PT. Geo Dipa dan PT Rante Mainta Servis jangan bermain kucing-kucingan dengan masyarakat. Jika proyek ini memang resmi dan legal, hadapi rakyat secara terbuka, bukan dengan rapat diam-diam yang melibatkan segelintir elit dan mengabaikan desa terdampak,” imbuhnya.

Ia menambahkan bahwa mahasiswa Pabos akan mengambil langkah konsolidasi dan siap melakukan perlawanan jika praktik penyingkiran masyarakat ini terus berlanjut. “Kami menolak segala bentuk pembahasan proyek tanpa melibatkan Payo, Bobo, Bobo Jiko, Pateng, dan Saria. Jangan jadikan desa kami sebagai korban eksploitasi tanpa suara,” pungkas Isman Rustam.

Sementara pihak PT. Geo Dipa Energi dan PT. Rante Mainta Servis belum dapat dikonfirmasi. Hingga berita ini diterbitkan, Wartawan Beritadetik.id sudah berupaya, namun belum berhasil. (pte/red).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *