Beritadetik.id – Coach SSB Tunas Muda Halmahera Barat, Maluku Utara, Ardiman Rumain akhirnya buka suara terkait salah satu pemain SSB Tunas Muda, M. Ridho Rumadaul yang gagal berangkat ke Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk bergabung dengan Tim Soeratin U 15.
Ardiman menjelaskan, bahwa awalnya dari Banjarmasin meminta dirinya untuk mengirim pemain U13. Namun setelah bertanding di final piala Menpora, ia kembali ditelpon dari Banjarmasin untuk mengirim pemain U15.
“Setelah diminta U15, saya kemudian memanggil para pemain U15 dan saya membuat daftar nama-nama pemain U15 tersebut. Di daftar yang dia (M. Ridho) di urutan pertama itu bukan urutan pertama dari hasil seleksi, tetapi nama-nama yang di daftar itu dipanggil untuk latihan persiapan ke Banjarmasin. Kemudian saya minta pemberkasan seluruh pemain. Saya bilang ke orang tuanya Ridho, Sehan ngana kirim berkas itu saya mo bawa anak-anak ke Banjarmasin, tapi belum langsung berangkat, masih ada beberapa tahapan seperti latihan dan seleksi,” ungkap Ardiman kepada Beritadetik.id, melalui via telpon WhatsApp. Kamis malam (31/7/2025).
Di hari Sabtu, lanjut Ardiman, dirinya mengadakan game 25 menit sambil memantau permainan anak didiknya. Saat itu kata dia, ada 6 orang pemain yang menonjol. Karena tak puas, ia menambah waktu 25 menit lagi untuk melihat kualitas pemain yang sebenarnya.
Dari amatannya, Ardiman mengaku ada dua pemain U15 di posisi winger yang bagus, termasuk Wijaya dan M. Ridho. Sementara yang diminta posisi winger hanya satu.
“Kalau iko saya p mau, dua-duanya harus berangkat. Tapi yang diminta (winger) hanya satu, winger satu, stopper satu dan striker satu berarti tiga dan ditambah U13 tiga orang. Lalu diseleksi yang terakhir di Minggu pagi itu waktu 25 menit yang sama, di situ dipantau lagi. Selaku pelatih, saya punya hak penuh untuk memilih pemain yang berkualitas sesuai dengan kriteria permintaan dari Banjarmasin,” katanya.
Dia menegaskan bahwa, yang berhak menentukan lolos dan tidaknya adalah pelatih. “Karena ini hak penuh jatuh kepada pelatih maka orang tua tidak perlu campur persoalan ini,” tegas Ardiman.
Ia juga menanggapi pernyataan Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Halbar, Joko Ahadi yang meminta Ketua Askab PSSI Halbar agar mengevaluasi dirinya.
“Askab tidak ada urusan dengan SSB. (Permintaan) ini langsung ke SSB. Hanya saja saya berkoordinasi dengan Askab selaku penanggung jawab sepak bola di Halbar. Terus yang mau dievaluasi apa? Sedangkan yang punya SSB dan link ke Banjarmasin saya sendiri. Terus apa yang mau dievaluasi,” tuturnya.
Setelah berkoordinasi dengan Askab, kata Ardiman, pihaknya bertemu dengan Wakil Bupati selaku Ketua Askab di Halbar. Setelah itu, ia kemudian menelpon pemain yang dinilai berkualitas berdasarkan hasil seleksi. Namun, M. Ridho enggan ditelpon karena dirinya tidak terpilih untuk berangkat ke Banjarmasin.
“Tetapi sebelum itu saya belum umumkan siapa-siapa yang berangkat. Saya bilang di pemain, nanti pada saat saya telpon berarti itu yang berhak berangkat dan itu adalah pemain yang berkualitas. Mungkin Ridho berfikir kalau namanya diurutan pertama tadi dia sudah terpilih, padahal belum. Nama yang diurutan tadi adalah nama-nama yang dipanggil untuk latihan dan seleksi,” akunya.
Ia juga menanggapi dugaan ada permainan ‘kotor’ yang dilakukan oleh pengurus Askab dan Coach SSB Tunas Muda, Ardiman menyatakan bahwa itu tidak benar. “Itu tidak benar. Itu fitnah. Selama ini SSB Tunas Muda keluar berlaga di berbagai pertandingan itu usaha saya sendiri tanpa ada sentuhan dari siapa-siapa,” pungkasnya. (pte)











