Beritadetik.id – Pergantian siang dan malam, datangnya musim hujan dan kemarau, hingga sejuknya udara serta teriknya matahari merupakan tanda-tanda keagungan Sang Pencipta. Alam bukan sekadar benda yang bergerak tanpa makna, melainkan sarana untuk mengingatkan manusia kepada kekuasaan Allah SWT.
Pesan tersebut disampaikan oleh Ambrin Sibua saat memberikan khutbah Jumat di Masjid Baitulrahman, Desa Gotalamo, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, pada Jumat (28/8/2026).
Dalam khutbahnya, Ambrin menyoroti fenomena kenaikan suhu udara yang belakangan ini dikeluhkan oleh masyarakat di berbagai daerah.
“Beberapa waktu terakhir ini, manusia di berbagai tempat mengeluhkan suhu yang semakin panas. Udara terasa menyengat sehingga aktivitas di luar rumah menjadi lebih berat. Kondisi ini bukan sekadar perasaan, sebab dikutip dari berbagai sumber bahwa pada Juni 2026, suhu rata-rata global tercatat sebagai yang tertinggi kedua,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa mempelajari sebab-sebab alamiah terjadinya fenomena tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan iman. Islam mengajarkan umatnya untuk memahami sebab tanpa melupakan Allah sebagai Pencipta seluruh sebab.
“Ada manusia yang meneliti tentang panasnya matahari, namun dia sadar bahwa Allah yang menciptakan, mengatur, dan menundukkan matahari bagi kehidupan manusia,” tambah Ambrin, mengutip firman Allah dalam QS. Yunus ayat 5: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.”
Lebih lanjut, ia mengkritik kecenderungan manusia yang sering merasa tidak membutuhkan Allah saat diberi kelimpahan rezeki, kesehatan, dan air. Manusia kerap baru menyadari kesalahannya ketika nikmat tersebut mulai berkurang.
“Ketika air yang tidak sekadar sebagai sumber kehidupan namun dimaknai sebagai asal kehidupan mulai berkurang, udara semakin panas, dan tubuh mulai melemah, barulah manusia menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang sangat fakir. Laa haula wala kuwwata illa billah,” tegasnya.
Integrasi Al-Qur’an dan Sains Modern
Melalui mimbar Jumat, Ambrin meletakkan perhatian khusus pada pentingnya air dari sudut pandang Al-Qur’an dan sains. Ia meluruskan pemahaman awam yang kerap menyamakan antara asal penciptaan manusia dengan asal kehidupan seluruh makhluk.
“Selama ini hampir semua anak diajarkan satu kalimat: ‘Manusia berasal dari tanah.’ Tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Namun, apakah Al-Qur’an pernah mengatakan bahwa kehidupan dimulai dari tanah? Di sinilah banyak orang tanpa sadar menyatukan dua hal yang berbeda. Al-Qur’an membedakan antara asal penciptaan manusia dan asal kehidupan seluruh makhluk,” paparnya.
Perbedaan tersebut terlihat dalam QS. Al-Anbiya ayat 30: “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak beriman?” serta QS. Ali ’Imran ayat 59: “Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah seperti Adam. Dia menciptakannya dari tanah.”
Ambrin mengutip penafsiran Ibnu Katsir yang menjelaskan bahwa ayat dalam Surah Al-Anbiya menegaskan air sebagai sebab kehidupan seluruh makhluk. Sementara itu, penciptaan Adam dari tanah merupakan kekhususan yang menunjukkan kekuasaan Allah menciptakan manusia pertama tanpa ayah dan ibu.
“Perhatikan betapa telitinya Al-Qur’an memilih kata. Allah tidak mengatakan ‘Kami jadikan manusia dari air,’ tetapi ‘Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.’ Tanah memang menjadi tempat tumbuhnya tanaman, tetapi tanah yang tidak pernah disentuh air akan tetap menjadi hamparan yang mati. Sebaliknya, ketika hujan turun, tanah yang tandus berubah menjadi hijau dan penuh kehidupan,” urainya.
Sejalan dengan hal tersebut, ilmu biologi modern membuktikan bahwa sebagian besar tubuh manusia terdiri atas air dan sel hidup memerlukan air untuk reaksi metabolisme. Begitu pula saat para ilmuwan mencari keberadaan kehidupan di planet lain, titik fokus utama mereka adalah ketersediaan air. Sains modern seolah baru sampai pada gerbang yang telah ditunjukkan Al-Qur’an lebih dari 14 abad lalu.
Hikmah Air dan Kehidupan Hati
Di akhir khutbahnya, Ambrin mengajak jamaah merenungkan alasan Allah memilih air bukan emas atau benda berharga lainnya sebagai simbol kehidupan. Air memiliki sifat-sifat mulia yang patut diteladani oleh seorang mukmin.
“Air selalu mengalir ke tempat yang rendah, memberi manfaat kepada siapa saja, membersihkan tanpa membanggakan dirinya, dan menghidupkan tanpa meminta balasan. Bukankah seorang mukmin seharusnya demikian? Semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya. Semakin besar manfaatnya, semakin sedikit ia ingin dipuji,” jelasnya.
Ia menutup khutbah dengan mengingatkan agar manusia tidak hanya menjaga kehidupan fisik dengan air, tetapi juga menjaga kehidupan jiwa dengan wahyu Al-Qur’an.
“Tanah mengingatkan kita tentang asal-usul, sedangkan air mengingatkan kita bahwa setiap detik kehidupan adalah pemberian Allah. Ketika hujan turun, bumi kembali hidup. Dan ketika ayat-ayat Allah turun ke dalam hati yang tulus, jiwa yang paling gersang pun dapat kembali berbunga. Karena itu, marilah kita senantiasa menjaga kehidupan hati dengan wahyu yang Allah turunkan dari langit yang suci,” pungkasnya. (*)
















