Beritadetik.id – Sebuah potongan video yang memperlihatkan aksi seorang oknum polisi di dermaga pelabuhan speedboat Dufa-dufa, Kota Ternate, Maluku Utara, mendadak viral di media sosial Facebook. Video tersebut memicu reaksi keras dari warganet karena memperlihatkan tindakan yang dinilai tidak terpuji terhadap lingkungan.
Video tersebut pertama kali diunggah oleh akun bernama Fangare Sangadji pada Senin malam. Hingga Selasa (20/1/2026), unggahan itu telah mendapat respon signifikan dengan 313 suka, 144 komentar, dan telah dibagikan sebanyak 10 kali.
Dalam rekaman tersebut, oknum polisi yang diketahui bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di Kelurahan Dufa-dufa itu terlihat sedang melakukan pemusnahan barang bukti yang diduga merupakan minuman keras (miras) hasil selundupan jalur laut.
Namun, saat menumpahkan isi miras tersebut, ia justru membuang bungkusan plastik wadahnya langsung ke laut tanpa beban.
Sikap petugas berseragam tersebut memancing kritik tajam dari netizen yang menyayangkan kurangnya kesadaran akan pencemaran lingkungan. Akun @Muhctar Otex, misalnya, menuliskan kekecewaannya secara gamblang.
”Itu namanya pencemaran lingkungan, setidaknya bungkusannya jangan dibuang ke laut. Pakai seragam tapi otaknya masih sekelas sekolah dasar aja,” tulisnya di kolom komentar.
Senada dengan itu, akun @James Sau Dura menyarankan agar petugas lebih bijak dalam menangani limbah plastik. “Bapak Polisi ini tidak tahu jaga kebersihan di laut, coba plastik sampah itu ditaruh di dalam dus ulang, jangan buang sembarangan begitu,” tuturnya.
Bahkan, akun @ALeing memberikan komentar pedas terkait integritas dan proses seleksi oknum tersebut.
“Itu polisi masuk tes karena bayar 100 atau 200 juta itu, cek nilai rapotnya pasti merah-merah,” cecarnya.
Meski banyak kecaman, sebagian warganet tetap mengapresiasi kinerja kepolisian dalam memberantas peredaran miras di wilayah Ternate. Namun, mereka menyayangkan cara eksekusi yang merusak ekosistem laut.
“Sudah bagus (menyita miras), tapi plastiknya jadi sampah di laut,” tulis akun @Mbapi Tarakani, merangkum dilema yang dirasakan masyarakat atas kejadian tersebut.(red)

















