Beritadetik.id – Bertepatan dengan peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Forum BEM Se-DIY (FBD) menggelar aksi damai di Perempatan Gondomanan, Yogyakarta, pada Rabu (10/12/2025).
Aksi yang juga diikuti oleh elemen masyarakat sipil ini tak hanya menyuarakan penegakan HAM, tetapi juga menunjukkan solidaritas kemanusiaan dengan menggelar Sholat Ghoib, doa bersama, dan galang dana akbar untuk korban bencana banjir bandang di Sumatera.
Dalam orasinya, Koordinator Umum Forum BEM Se-DIY, Faturahman Djaguna, menegaskan bahwa peringatan Hari HAM Sedunia bukan sekadar rutinitas seremoni. Menurutnya, momentum ini adalah panggilan mendesak untuk menyoroti kondisi penegakan HAM di Indonesia yang dinilai kian merosot.
“Negara masih menyisakan pekerjaan besar dalam menyelesaikan pelanggaran HAM baik di masa lalu maupun masa kini, sementara represi terhadap masyarakat dan pembatasan kebebasan sipil, perampasan ruang hidup masih terus terjadi,” ujar Faturahman.
Ia menekankan bahwa landasan hukum Indonesia, seperti UUD 1945, UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, telah secara jelas mengamanatkan kewajiban negara untuk mengusut tuntas, mengadili, dan mempertanggungjawabkan pelanggaran HAM, bukan malah menyembunyikannya.
“Namun pada kenyataannya, komitmen tersebut tidak diikuti langkah konkret. Kasus kekerasan aparat, penghilangan paksa, kriminalisasi aktivis, diskriminasi terhadap kelompok rentan, hingga pembatasan kebebasan berekspresi, masih menghiasi halaman gelap demokrasi Indonesia hari ini,” tuturnya.
Lebih lanjut, Koordinator FBD juga menjelaskan bahwa aksi 10 Desember ini diwarnai dengan semangat kemanusiaan. Di tengah tuntutan penegakan HAM, massa aksi juga secara khusus menggelar Sholat Ghoib dan doa bersama di titik aksi.
“Di samping memperingati hari HAM Se-Dunia, Forum BEM DIY juga melakukan sholat ghoib dan doa bersama di titik aksi, bagi saudara-saudara kita yang di Sumatera untuk seluruh korban bencana banjir bandang, serta doa bersama untuk saudara-saudara yang terdampak agar diberikan kekuatan dan ketabahan seraya keselamatan,” tambah Fatur.
Aksi ini merupakan bentuk komitmen FBD untuk selalu terbuka dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan, terbukti dengan bergabungnya BEMNUS DIY dan elemen gerakan lain dalam aksi bersama 10 Desember ini.
Dalam aksi tersebut, Forum BEM DIY bersama seluruh yang tergabung membawa sembilan tuntutan mendesak kepada pemerintah dan negara:
1. Adili pelaku pelanggaran HAM mengakhiri impunitas dan menegakkan supremasi hukum sesuai amanat UUD 1945 dan UU Pengadilan HAM.
2. Cabut status Soeharto sebagai Pahlawan Nasional karena rekam jejak pelanggaran HAM berat dan korupsi sistemik yang bertentangan dengan prinsip kepahlawanan.
3. Bebaskan tahanan politik karena keberadaan mereka bertentangan dengan kebebasan berekspresi yang dijamin konstitusi.
4. Wujudkan pendidikan gratis sebagai hak dasar rakyat dan kewajiban negara menurut Pasal 31 UUD 1945.
5. Tetapkan bencana sumatra sebagai bencana Nasional untuk percepatan penanganan, pemulihan, dan penyelamatan warga dalam skala massif.
6. Wujudkan kesehatan gratis agar rakyat tidak terbebani biaya layanan medis yang seharusnya dijamin oleh negara.
7. Tolak proyek ekstraktif karena merusak lingkungan, merampas ruang hidup rakyat, dan hanya menguntungkan oligarki.
8. Revitalisasi institusi kepolisian untuk menghadirkan Polri yang humanis, akuntabel, bebas dari kekerasan dan penyalahgunaan wewenang.
9. Tolak KUHAP baru karena mengancam ruang demokrasi dan kebebasan sipil melalui pasal-pasal karet.(*)
















