Beritadetik.id – Sebanyak 10 Relawan Bakti BUMN mendapatkan edukasi mengenai pemanfaatan Fly Ash Bottom Ash (FABA) dari operasional PLTU Tidore sebagai bagian dari upaya mendorong pengelolaan lingkungan berkelanjutan dan penerapan ekonomi sirkular di sektor energi.
General Manager PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara, Dony Noor Gustiarsyah, menyampaikan bahwa pemanfaatan FABA merupakan langkah nyata PLN dalam mengubah material sisa pembangkitan menjadi sumber daya bernilai guna yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
“PLN tidak hanya berkomitmen menghadirkan listrik yang andal, tetapi juga memastikan setiap proses bisnis berjalan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan. Melalui pemanfaatan FABA dengan konsep waste to value, material sisa pembangkitan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai manfaat, sekaligus mendukung ekonomi sirkular dan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG),” ujar Dony.
Dalam kegiatan edukasi tersebut, para relawan mengunjungi PLTU Tidore yang berlokasi di Desa Rum Balibunga, Tidore Utara. Pembangkit dengan kapasitas terpasang 2 x 7 MW dan daya mampu netto sebesar 12,6 MW tersebut merupakan salah satu infrastruktur penting dalam menopang sistem kelistrikan Ternate–Tidore.
Melalui kegiatan ini, relawan diperkenalkan dengan proses pengelolaan dan berbagai potensi pemanfaatan FABA yang berasal dari hasil pembangkitan listrik. FABA PLTU Tidore dikembangkan untuk berbagai kebutuhan produktif, mulai dari stabilisasi lahan, pembangunan infrastruktur, material konstruksi, hingga mendukung upaya perlindungan ekosistem pesisir.
Salah satu pemanfaatan yang diperkenalkan adalah penggunaan FABA sebagai material alternatif dalam pembuatan paving block. Melalui praktik tersebut, para relawan melihat secara langsung bagaimana material sisa pembangkitan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi mendukung kebutuhan pembangunan masyarakat.
Selain paving block, FABA juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk konstruksi lainnya seperti batako, bahan tambah beton, stabilisasi tanah dan jalan, konstruksi lanskap, hingga bata ringan (hebel). Pemanfaatan ini menjadi bagian dari komitmen PLN dalam mengurangi potensi limbah sekaligus mendorong penggunaan material alternatif yang ramah lingkungan.
Pemanfaatan FABA di PLTU Tidore menjadi bagian dari transformasi pengelolaan material sisa pembangkitan yang sebelumnya hanya dipandang sebagai residu, menjadi material yang memiliki nilai guna dan manfaat ekonomi. Melalui pendekatan waste to value, PLN terus mendorong inovasi agar proses bisnis pembangkitan listrik dapat berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Lebih dari sekadar pengelolaan material sisa, pemanfaatan FABA juga membuka peluang kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan produk berbasis material alternatif. Dengan pengelolaan yang tepat, FABA dapat menjadi bagian dari solusi pembangunan berkelanjutan sekaligus memperkuat komitmen PLN dalam menerapkan ekonomi sirkular di wilayah operasionalnya.
Kegiatan edukasi FABA ini menjadi salah satu bentuk kontribusi PLN dalam memperkenalkan praktik energi berkelanjutan kepada generasi muda dan para relawan. Melalui kolaborasi tersebut, PLN menunjukkan bahwa operasional pembangkit tidak hanya berfokus pada penyediaan energi listrik, tetapi juga menghadirkan inovasi yang memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Melalui pemanfaatan FABA di PLTU Tidore, PLN terus memperkuat langkah menuju pengelolaan energi yang berkelanjutan dengan mengedepankan prinsip kebermanfaatan.
Inisiatif ini menjadi bukti bahwa pembangkitan listrik dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan serta menciptakan nilai tambah bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional PLN.(*).
















